Home / Artikel / Matakuliah Qawaidul Fiqhiyyah

Matakuliah Qawaidul Fiqhiyyah

RINGKASAN MATERI

unduhanQAWAID AL-FIQHIYYAH (Al-Qawa>id al-Khamsah)

 

  1. Pengertian al-Qawa>’id al-Fiqhiyah

Secara bahasa al-Qawa>’id (mufrad dari qa’idah) bermakna asas, dasar, pondasi. [1] Unsur penting dari kaidah adalah bersifat kulli (menyeluruh).[2]

Sedangkan fiqih secara istilah bermakna ilmu tentang hukum dan perundang-undangan dalam Isla>m yang berdasarkan pada al-Qur’a>n, al-Sunnah S}ah}i>h}ah, Ijma>’ dan Qiya>s s}ah}i>h}. [3]

Dengan demikian maka al-Qawa>’id al-Fiqhiyah adalah dasar-dasar umum yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum dan perundang-undangan dalam Isla>m yang berdasarkan pada al-Qur’a>n, al-Sunnah S}ah}i>h}ah, Ijma>’ dan Qiya>s s}ah}i>h.

Perbedaan kaidah Us}uliyah dengan kaidah fiqhiyah adalah,

Kaidah Us|}uliyah adalah suatu hukum kulli yang dapat dijadikan standar hukum bagi juz’I yang diambil dari dasar kulli yakni al-Qur’a>n dan al-Sunnah, yang sering digunakan untuk تخريج الأحكام , yaitu mengeluarkan hukum dari dalil-dalilnya (al-Qur’a>n dan al-Sunnah).

Adapun pengertian kaidah fiqh selain dari yang sudah penulis jelaskan di atas, ada lagi defini tentang kaidah fikih yang lebih kongkrit dan tidak membingnungkan adalah kaidah yang disimpulkan secara general dari materi fikih dan kemudian digunakan pula untuk menentukan hukum dari kasus-kasus baru yang timbul yang tidak jelas hukumnya di dalam nas}s}. Kaidah fikih sering digunakan sebagai تطبيق الأحكام , yaitu penerapan hukum atas kasus-kasus yang timbul dalam bidang kehidupan manusia.

Adapun persamaan antara kaidah usul fikih dengan kaidah fikih adalah keduanya sama-sama sebagai metodologi hukum Isla>m.

  1. Obyek al-Qawa>’id al-Fiqhiyah

Obyek kaidah-kaidah fikih adalah perbuatan mukallaf sendiri,[4] sedangkan materi fikih dikeluarkan dari kaidah-kaidah fikih yang sudah mapan yang tidak ditemukan nas}s} nya secara khusus di dalam al-Qur’a>n dan al-Sunnah al-S}ah}ih}ah.

  1. Manfaat dan Keutamaan Mempelajari al-Qawa>’id al-Fiqhiyah

Manfaat mempelajari al-Qawa>’id al-Fiqhiyah antara lain:

  1. Mengetahui asas-asas umum fiqh [5]
  2. Lebih arif di dalam menetapkan hukum bagi masalah-masalah yang dihadapi.[6]
  3. Memberi kemudahan di dalam menemukan hukum-hukum untuk kasus-kasus hukum yang baru dan tidak jelas nas}s}nya dan memungkinkan menghubungkannya dengan materi-materi fikih yang lain yang tersebar di berbagai kitab fikih serta memudahkan di dalam memberi kepastian hukum. [7]

Sedangkan keutamaan mempelajari  al-Qawa>’id al-Fiqhiyah adalah agar dapat tafaqquh (mengetahui, mendalami, menguasai) ilmu fiqh. [8]

 

  1. Proses Kaidah Fikih

Sulit diketahui siapa pembentuk pertama kaidah fiqh, yang jelas dengan meneliti kitab-kitab kaidah fiqh dan masa hidup penyusunnya, ternyata kaidah-kaidah fiqh tidak terbentuk sekaligus, tetapi terbentuk secara bertahap dalam proses sejarah hukum Isla>m. walaupun demikian, di kalangan ‘ulama>’ dibidang kaidah fiqh menyebutkan bahwa Abu> T}ahir al-Dibasi, ulama>’ madzab H}anafi> [9], telah mengumpulkan kaidah fiqh madzab H}anafi> sebanyak 17 kaidah. Kemudian Abu> Sa’id al-H}arawi, ulama>’ madzab Shafi’i mengunjungi Abu> T}ahir dan mencatat kaidah fiqh yang dihafalkan Abu T}a>hir.[10]

 

 

 

 

 

 

 

Alur dan proses kaidah fikih adalah sebagai berikut: [11]

al-Qur’a>n Us}u>l Kaidah
al-Sunnah Fiqh Fiqh Fiqh
al-S}ah}ih}ah
1 2 3 4
Kaidah Fiqh Qanu>n
Fiqh
6 7 8
Pengujian Kaidah
5

 

 

Dari diagram di atas dapat penulis jelaskan sebagai berikut:

(1). Sumber hukum Isla>m yaitu al-Qur’a>n dan al-Sunnah S}ah}i>h}ah (Nas}s}) ; (2) Kemudian muncul us}u>l fiqh sebagai metodologi istinba>t} al-ah}ka>m. Dengan metodologi us}u>l fiqh yang menggunakan pola pikir deduktif [12] akhirnya menghasilkan fiqh; (3) Fiqh ini banyak materinya. Dari materi fiqh yang banyak itu kemudian ulama>’-ulama>’ yang dalam ilmunya dibidang fiqh, meneliti persamaannya dengan menggunakan pola pikir induktif [13] , kemudian dikelompokkan. Tiap-tiap kelompok merupakan kumpulan dari masalah-masalah serupa, akhirnya disimpulkan menjadi kaidah-kaidah fiqh; (4) Selanjutnya kaidah-kaidah itu dikritisi kembali dengan menggunakan banyak Nas}s}, terutama untuk dinilai kesesuaiannya dengan substansi Nas}s}. Pada posisi bagan keempat ini kaidah fikih masih bersifat ikhtilaf sebab belum dikroscek dan belum diuji kesesuaiannya dengan substansi nas}s}. (5) Apabila sudah dianggap sesuai dengan Nas}s}, baru kaidah fiqh tersebut menjadi kaidah yang mapan; (6) Apabila sudah menjadi kaidah yang mapan/ akurat, maka ulama>’-ulama>’ fiqh menggunakan kaidah tadi untuk menjawab tantangan perkembangan masyarakat, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, akhirnya memunculkan fiqh-fiqh baru; (7) Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila ulama>’ memberi fatwa dalam hal-hal yang baru, yang praktis selalu menggunakan kaidah-kaidah fiqh yang telah mapan tersebut. [14] (8) Akhirnya kaidah-kaidah fiqh yang telah mapan tersebut menjadi Qa>nu>n.[15]

 

  1. Teori dan Aplikasi Dari al-Qawa>’id al-Fiqhiyah
  1. al-Qawa>’id al-Khamsah
    1. الأمور بمقاصدها[16]

Menurut ulama>’ Shafi’iyah, niat diartikan dengan bermaksud melakukan sesuatu disertai dengan pelaksanaannya.[17]  

Adapun penerapan niat adalah sebagai berikut:

1)        Bertempat di dalam hati
2)        Niat didahulukan dari perbuatan atau bersamaan dengan perbuatan agar dapat menarik kepada keikhlasan. [18]

 

Sedangkankan fungsi niat adalah:

1)      Untuk membedakan antara ibadah dan adat kebiasaan. Dalam bidang h}ablu>n min Alla>h (ibadah) niat adalah rukun.[19] Sedangkan dalam bidang h}ablu>n min al-Na>s (mu’amalah, munakah}ah,[20] jinayah dll), niat berfungsi sebagai penentu apakah perbuatan tersebut mempunyai nilai ibadah ataukah bukan. Hal ini didasarkan pada qarinah dan bukti-bukti yang dapat dijadikan alat untuk mengetahui macam niat orang yang berbuat. [21]

2)      Untuk membedakan kualitas perbuatan, baik kebaikan ataupun kejahatan. [22] Seperti seorang dokter yang mengobati pasien dengan niat mengobati (jika sesuai dengan dosis dan aturan serta kode etik kedokteran) atau membunuh (jika tidak sesuai dengan dosis dan aturan serta kode etik kedokteran).

3)      Untuk menentukan sah tidaknya suatu perbuatan ibadah tertentu serta membedakan yang wajib dan yang sunnah. Seperti niat s}alat fard}u atau niat s}alat sunnat.

Pengecualian dari kaidah ini [23] adalah :

1)      Tidak diperlukan niat [24] pada perbuatan yang bukan ibadah.

2)      Tidak diperlukan niat [25] dalam mengerjakan dan meninggalkan perbuatan haram.[26] Seperti niat mengerjakan dan menjauhi perbuatan zina.

  1. اليقين لا يزال بالشك[27]

Yang dimaksud yakin[28]  adalah sesuatu yang menjadi tetap karena penglihatan pancaindera atau dengan adanya dalil. sedangkan Shak[29]  adalah suatu pertentangan antara kepastian dengan ketidakpastian tentang kebenaran dan kesalahan dengan kekuatan yang sama, dalam arti tidak dapat ditarjih}kan salah satunya. [30]

Prinsip pelaksanaan kaidah ini adalah ikht}iya>t} (berhati-hati dalam melakukan sesuatu), ditunjang dengan adanya bukti-bukti yang memperkuatnya. [31]

 

  1. المشقة تجلب التيسر[32]

Mashaqqah menurut arti bahasa adalah al-ta’ab yaitu kelelahan, kepayahan, kesulitan dan kesukaran. Prinsip kaidah ini adalah tidak ifra>t} (melampaui batas), dan tidak tafri>t} (kurang dari batas). Ukuran dari ifra>t} dan tafri>t} adalah hati yang selalu taat kepada Allah dan untuk menjaga dan memelihara maqa>s}id shari>’ah (memelihara dan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta). Seperti makan bangkai dalam keadaan darurat, maka diperbolehkan untuk menjaga keselamatan jiwa. [33]

Para ulama membagi mashaqqah menjadi tiga tingkatan:

(1)   al-Mashaqqah al-’Az}i>mah (kesulitan yang sangat berat). Seperti meninggalkan wud}u dengan air, jika dikhawatirkan tangan/ kaki menjadi rontok, karena suatu penyakit.[34]

(2)   al-Mashaqqah al-Mutawassit}ah (kesulitan yang pertengahan, tidak sangat berat, juga tidak sangat ringan).[35]

(3)    al-Mashaqqah al- Khafi>fah (kesulitan yang ringan), seperti terasa lapar saat puasa, terasa capek waktu t}awaf dan sa’i.[36]

Adapun keringanan/ kemudahan karena adanya mashaqqah ada tujuh macam:

(1)   Takhfi>f Isqa>t [37]

(2)   Takhfi>f Tanqi>sh [38]

(3)   Takhfi>f Ibda>l [39]

(4)   Takhfi>f Taqdi>m [40]

(5)   Takhfi>f Ta’khi>r [41]

(6)   Takhfi>f Tarkhi>s} [42]

(7)   Takhfi>f Taghyi>r  [43]

Adapun sebab-sebab keringanan di dalam ibadah dan lain-lainnya antara lain adalah:

(a)    Bepergian. Ukurannya adalah bepergian yang bukan karena kemaksiatan.[44]

(b)    Sakit. [45]

(c)    Terpaksa. [46]

(d)    Lupa. [47]

(e)    Bodoh, tidak mengerti. [48]

(f)     Kekurangan. Ukurannya adalah kurang dalam salah satu dari tiga hal berikut ini, (1) kurang akal (seperti orang yang belum baligh), (2) kurang mental (seperti  orang yang kurang waras), dan (3) kurang tenaga (seperti orang yang sedang menderita suatu penyakit).[49]

(g)    Kesulitan [50]. Hal ini terjadi karena sulit menghindarkan diri, atau hal yang sudah umum terjadi (umu>m al-Balwa). Seperti sulitnya menghindar dari debu dan cipratan air kotor saat musim hujan.

 

Adapun pengecualian dari kaidah ini antara lain:

(a)    Kesulitan-kesulitan yang diklasifikasikan pada mashaqqah yang ringan. Seperti pening yang ringan saat sujud s}alat.

(b)   Kesulitan-kesulitan yang muncul, memang satu resiko dalam suatu perbuatan. Seperti lapar yang biasa saat puasa.

 

Dikalangan madzab Shafi’i> [51] menyebutkan bahwa keringanan itu bisa beberapa macam hukumnya.

(a)    Wajib mengambil keringanan tersebut.[52] Yakni ketika pada posisi mashaqqah ‘az}i>mah.

(b)   Sunnah mengambil yang ringan.[53]

(c)    Boleh mengambil yang ringan. [54]

  1. الضرر يزال[55]

‘Izz al-Di>n bin ‘Abd al-Sala>m [56] menyatakan bahwa kemas}lah}atan dan kemafsadatan dunia dan akherat diketahui dari shari>’ah. Sedangkan kemas}lah}atan dan kemafsadatan dunia saja, bisa dikenal dengan pengalaman, adat kebiasaan, indikator-indikator yang benar. [57]

Dalam permasalahan d}aru>rat ini perlu kita ketahui bahwa kebutuhan manusia itu terbagi menjadi lima tingkatan yaitu: [58]

(a)     Tingkat d}aru>rat. [59]

(b)    Tingkat h}a>jat. [60]

(c)     Tingkat manfaat. [61]

(d)    Tingkat Zi>nah. [62]

(e)     Tingkat Fud}u>l. [63]

Adapun dalam keadaan d}aru>rat, yang membolehkan seseorang melakukan hal-hal yang dilarang adalah keadaan yang memenuhi syarat sebagai berikut:

(1)   Dalam kondisi d}aru>rat yang dapat mengancam jiwa dan anggota badan. [64]

(2)   Dalam keadaan d}aru>rat hanya dilakukan sekadarnya dan tidak melampaui batas.

(3)   Tidak ada jalan lain yang h}ala>l kecuali dengan melakukan yang dilarang.

 

Pengecualian dari kaidah di atas pada prinsipnya adalah:

(1)    Apabila menghilangkan kemud}aratan mengakibatkan datangnya kemud}aratan lain yang sama tingkatannya.[65]

(2)    Apabila menghilangkan kemud}aratan mengakibatkan datangnya kemud}aratan lain yang lebih besar/ tinggi tingkatannya. [66]

(3)    Apabila menghilangkan kemud}aratan dengan cara melampaui batas, dan bukan merupakan jalan satu-satunya yang harus dilakukan (ada alternatif lain selain hal haram yang menjadi pilihan).[67]

 

Perbedaan antara h}ajjah dan d}arurat adalah,

(1)   H}ajjah mempunyai efek kesulitan/ kesukaran dalam melakukan hukum dan yang dilanggar adalah hukum h}aram lighairihi.

(2)   D}arurat mempunyai efek bahaya yang muncul jika melakukan/ melaksanakan hukum dan yang dilanggar adalah h}aram lidhatihi.

 

  1. [68]العادة محكمة 

Menurut al-Jurja>ni> [69] al-’a>dah adalah sesuatu perbuatan/ perkataan yang terus menerus dilakukan oleh manusia, karena dapat diterima akal, dan manusia mengulang-ulanginya terus menerus. ‘Abd Wahab al-Khalaf tidak membedakan antara al-’A>dah dan al-’Urf. [70] Menurutnya, al-’Urf   adalah sesuatu yang telah diketahui oleh orang banyak dan dikerjakan oleh mereka, dari perkataan, perbuatan atau (sesuatu) yang ditinggalkan. Hal ini juga dinamakan al-’A>dah dan menurut pendapat ahli Shara>’ juga tidak ada perbedaan antara al-’Urf dan al-’A>dah.

 

Pengecualian dari kaidah ini:

(1)   al-’adah yang bertentangan dengan nas}s}. [71]

(2)   al-’adah yang menyebabkan kemafsadatan atau menghilangkan kemas}lah}atan, termasuk di dalamnya mengakibatkan kesulitan atau kesukaran. [72]

(3)   al-’adah yang berlaku dan biasa dilakukan oleh beberapa orang saja dan bukan berlaku pada umumnya kaum muslimi>n. [73] Seperti reog dengan didahului minum-minuman keras pada perayaan hari-hari tertentu di kota Ponorogo

Al-Bu>ti menjelaskan [74] segala sesuatu kebiasaan yang dianggap baik oleh masyarakat (al-’a>dah/ al-’urf) terkadang (pertama) ia merupakan hukum shar’i itu sendiri dan terkadang (kedua) bukan hukum shar’i> yang diatur secara rinci, dan belum ada batasannya yang jelas, tapi berhubungan kuat dengan hukum shar’i serta terkadang (ketiga) bukan merupakan salah satu dari kedua bentuk tersebut.[75]

Contoh bentuk pertama: Bersuci dari najis dan h}adath ketika hendak s}ala>t, nafkah suami terhadap istri, menutupi aurat, qis}a>s}, h}udu>d dan lain sebagainya. ‘Urf seperti ini tidak boleh menerima perubahan atau pergantian meskipun berbeda zaman dan adat suatu masyarakat. [76]

Contoh bentuk kedua : Penentuan usia baligh, batas-batas terjadinya h}aid} dan nifa>s, s}ighat-s}ighat atau lafaz}-lafaz} yang digunakan dalam transaksi dan talak. Contoh-contoh tersebut bukan merupakan h}ukum shara’ secara essensial, tetapi ia berhubungan dan menjadi مناط / standar obyek bagi hukum-hukum shara’. Bentuk kedua inilah yang dimaksud oleh para Fuqaha>’ dengan konsep العادة المحكمة. [77] Sehingga bentuk hukum berubah-ubah sesuai dengan perubahan مناط / kaitan obyek atau tempat bergantungnya hukum tersebut yang diserahkan kepada persepsi dan perkembangan adat masyarakat masing-masing. Sementara substansi h}ukum tetap dan tidak berubah sebagaimana kewajiban bersuci adalah salah satu yang bisa dilakukan dengan air dan terkadang dilakukan dengan debu.[78]

 

Adapun bentuk ketiga [79] terdapat dua kemungkinan, yaitu:

  1. ‘Urf / al-a>dah tersebut mencakup hal-hal yang mubah ‘Urf / al-a>dah ini tidak menjadi persoalan selagi tidak bertentangan dengan batas-batas shara>’.[80]Seperti dalam melakukan haji (dulu menaiki onta, sekarang menaiki kapal terbang).
  2. ‘Urf / al-a>dah tersebut bertentangan dengan nas}s} shara>’. ‘Urf  ini adakalanya datang bersama dengan nas}s} dan adakalanya  datang kemudian.[81]
  1. Jika datang bersamaan dengan nas}, maka dilihat apakah ‘urf tersebut berupa ucapan atau perbuatan. Jika berupa ucapan atau istilah bahasa/ komunikasi, maka ia menjadi h}ujjah. Di sini, posisi nas}s} ditafsirkan dalam perspektif ucapan/ istilah tersebut. Jika berupa perbuatan misalnya, istilah makanan (طعام) hanya diidentikkan dengan gandum dan sagu, sementara terdapat larangan shar’i tentang larangan jual beli makanan dengan sejenisnya kecuali sama jenis dan timbangannya dan saling serah terima secara langsung  (يدابيد), maka menurut H}anafiyah, ‘urf tersebut dapat menjadi h}ujah, sehingga ia dapat men-takhs}is keumuman nas}s}. Sementara jumhur ulama>’ berpendapat bahwa ‘urf tersebut tidak dapat men-takhs}is nas}s} dan membiarkan nas}s} secara umum sesuai dengan asalnya. [82]
  2. Jika ‘urf datang sesudah nas}s} yang menentangnya, maka ‘urf tersebut tidak bernilai apapun untuk men-takhs}is nas}s}. Baik ‘urf tersebut bersifat umum atau khusus. Baik berbentuk lafaz} atau ucapan atau perbuatan. Karena ‘urf tersebut tidak didasarkan kepada dasar nas}s} yang legal secara shar’i>. [83]

 

BIBLIOGRAFI

 

al-Burnu, Muh}ammad S}iddi>q bin AH}mad. al-Waji>z fi> Id}a>h} al-Qawa>’id al-Fiqhiyah, cet. 1, Beirut: Mu’assasah l-Risa>lah, 1983

al-Bu>t}i>, Sa’i>d Ramad}a>n. D}awa>bit} al-Mas}lah}ah fi> al-Shari>’ah al-Isla>mi>yah, Beirut : Mu’assasah al-Risa>lah, 1992

Al-Ghaza>li>, al-Mus}tashfa> min ‘Ilm al-Us}u>l, juz 1, Beiru>t:Da>r al-Kutub al-’Ilmiyyah,tt.

Al Jurja>ni>, Kita>b al-Ta’rifat, t.tp.: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah,1983

al-Khalaf, ‘Abd Wahab. Mas}a>dir al-Tashri’ fi> Ma> La> Nas}s} Fi>h, cet. III, Kwait: Da>r al-Qalam, 1972

al-Nadwi, Ah}mad. al-Qawa>’id al-Fiqhiyah, cet. V, Beirut: Da>r al-Qalam, 1998

al-Nadwi, Ali Ah}mad, al-Qawa>’id al-Fiqhiyah, cet V,Beirut: Da>r al-Qala>m, 2000

al-Ru>ki, Muh}ammad. Qawa>’id al-Fiqh al-Isla>mi>, cet I, Beirut: Da>r al-Qala>m, 1998

al-Sala>m, ‘Izz al-Di>n bin ‘Abd. Qawa>’id al-Ah}}ka>m fi> Mas}a>lih} al-Ana>m, juz.1, t.tp.: Da>r al-Jail, 1980

al-Sha>t}ibi>, Abu> Ish}a>q. al-Muwa>faqa>t fi> Us}ul al-Shari>’ah, juz. II, t.tp: al-Maktabah al-Tija>riyah, t.t

al-Shirazi>, Abu> Ish}a>q. al-Muhadhdhab, juz. I, t.tp: Da>r al-Fikr, t.t

al-S}iddi>qi>, H}asbi. Pengantar Hukum Isla>m, cet III, Jakarta: Bulan Bintang, 1963

al-Suyu>t}i, Jala>l al-Di>n ‘Abd. Al-Rah}ma>n. al-Ashba>h wa al-Naz}a>’ir fi> Qawa>’id wa Furu>’ Fiqh al-Sha>fi’i>, cet.I, Beiru>t: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah, 1979.

al-Zarqa>’ Ah}mad bin Shaikh Muh}ammad. Sharh} al-Qawa>’id al-Fiqhiyah, cet.VI, Damskus: Da>r al-Qalam, 2001

Dahlan,M. Kamus Induk Istilah Ilmiah, Surabaya: Target Press, 2003

Djazuli, A. Kaidah-Kaidah Fikih, Jakarta: Kencana, 2002

Djazuli, A. Ilmu Fikih: Penggalian, Perkembangan dan Penerapan Hukum Isla>m, cet V, Jakarta: Prenada Media, 2005

Ibn Nuzaim al-H}anafi>, Zayn al-’Abidi>n bin Ibra>hi>m. al-Ashba>h wa al-Naz}a>’ir, cet. 1, Damaskus Da>r al-Fikr, 1983

Rah}ma>n, Asymuni A. Qaidah-Qaidah Fiqh, cet. 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1976

 

 

 

[1] Ali Ah}mad al-Nadwi, al-Qawa>’id al-Fiqhiyah, cet V(Beirut: Da>r al-Qala>m, 2000), 107. Lihat pula Muh}ammad al-Ru>ki, Qawa>’id al-Fiqh al-Isla>mi>, cet I (Beirut: Da>r al-Qala>m, 1998), 107

[2]قضية كلية منطبقة على جميع جزئياتها  Ketetapan yang kulli (menyeluruh) yang mencakup seluruh bagian-bagiannya. Al Jurja>ni>, Kita>b al-Ta’rifat, (t.tp.: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah,1983), 171. Atau lihat di al-Suyu>t}i, Jala>l al-Di>n ‘Abd al-Rah}ma>n, al-Ashbah wa al-Naz}a>’ir fi> Qawa>’id wa Furu>’ al-Sha>fi’i>, cet. 1 (Beirut: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah, 1979) 5.  حكم كلي ينطبق على جزئيته , hukum kulli (menyeluruh) yang meliputi bagian-bagiannya.

[3] Ali Ah}mad al-Nadwi, al-Qawa>’id…, 107. Lihat juga di Asymuni A. Rah}ma>n, Qaidah-Qaidah Fiqh, cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 28. Lihat juga di M. Dahlan, Kamus Induk Istilah Ilmiah  (Surabaya: Target Press, 2003), 211

[4] Jala>l al-Di>n ‘Abd. Al-Rah}ma>n al-Suyu>t}, al-Ashba>h wa al-Naz}a>’ir fi> Qawa>’id wa Furu>’ Fiqh al-Sha>fi’i>, cet.I (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah, 1979). Lihat juga di A. Djazuli, Kaidah-Kaidah Fikih, (Jakarta: Kencana, 2002), 5

[5] Yakni dasar-dasar umum fikih yang ada dalam kaidah fikih tersebut seperti al-Qawa>’id al-Khamsah.

[6] Dengan memasukkan dan menggolongkan masalah pada salah satu kaidah fiqh yang ada.

[7] Al-Suyu>t}i, Jala<l al-Di>n ‘Abd al-Rah>man, al-Ashba>h wa al-Nadz}a>ir fi> Qawa>’id wa Furu>’ Fiqh al-Sha>fi’i>, cet I (Beirut: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah, 1979), 6 atau lihat Muh}ammad al-Ru>ki, Qawa>’id al-Fiqh al-Isla>mi>, cet I (Beirut: Da>r al-Qala>m, 1998), 1011

[8] H}asbi al-S}iddi>qi>, Pengantar Hukum Isla>m, cet III (Jakarta: Bulan Bintang, 1963), 235.

[9] Hidup di akhir abad ke-3 dan awal abad ke-4 hijriyah.

[10] Diantaranya adalah lima kaidah (al-Qawa>’id al-Khamsah). Lihat Ah}mad bin Shaikh Muh}ammad al-Zarqa>’ Sharh} al-Qawa>’id al-Fiqhiyah, cet.VI (Damskus: Da>r al-Qalam, 2001), 38

[11] A. Djazuli, Ilmu Fikih: Penggalian, Perkembangan dan Penerapan Hukum Isla>m, cet V (Jakarta: Prenada Media, 2005), 17

[12] Analisis data–data (yang diambil dari Nas}s} yang S}ah}i>h) yang bersifat khusus kemudian digeneralkan, diumumkan.

[13] Analisis data-data (yang diambil dari Nas}s} yang S}ah}i>h atau kaidah us}u>l fiqh dan permasalahn fiqh)  yang bersifat umum kemudian dikhususkan.

[14] Sesuai dengan nas}s}

[15] Menjadi undang-undang, peraturan, norma, kaidah yang dita’ati.

[16] Segala perkara tergantung niatnya.

[17]  قصد الشيئ مقترنا بفعله أو القصد المقارن للفعل

Qalyubi wa Umairah, Hashiyah Shiha>b al-Di>n al-Qalyubi wa Umairah, juz. I (Singapura: Maktabah wa Mat}ba’ah Sulaima>n Mar’i, t.t), 45; lihat juga di Abu> Ish}a>q al-Shirazi>, al-Muhadhdhab, juz. I (t.tp: Da>r al-Fikr, t.t), 70

[18] !$tBur(#ÿrâÉDé&žwÎ)(#r߉ç6÷èu‹Ï9©!$#tûüÅÁÎ=øƒèCã&s!tûïÏe$!$#uä!$xÿuZãm  …ÇÎÈ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…al-Qur’a>n, 98 (al-Bayyinah): 5

[19] Seperti niat solat, jika untuk menjalankan perintah |Allah akan mendapatkan pahala sedangkan jika niat s}alat untuk berolah raga, maka tidak mendapat pahala.

[20]  Seperti nikah dengan niatan memenuhi perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasul akan mendapatkan pahala. Sedangkan nikah hanya dengan niatan untuk memenuhi kebutuhan sexual saja, maka tidak mendapatkan pahala.

[21] Bahkan ada h}adi>th riwayat al-T}abra>ni menjelaskan, نية المؤمن خير من عمله , niat seorang yang mukmin lebih baik daripada perbuatannya.

[22]….. }§øŠs9uröNà6ø‹n=tæÓy$uZã_!$yJ‹ÏùOè?ù’sÜ÷zr&¾ÏmÎ/`Å3»s9ur$¨BôN‰£Jyès?öNä3ç/qè=è%4tb%Ÿ2urª!$##Y‘qàÿxî$¸JŠÏm§‘ÇÎÈ

….. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. al-Qur’a>n, 33 (al-Ah}za>b): 5

[23] Artinya niat itu tidak menjadi rukun.

[24] Maksudnya niat tidak menjadi rukun.

[25] Niat tidak menjadi rukun

[26] Dalam hal perbuatan h}aram ada beberapa kaidah yang dapat dijadikan sebagai acuan:

(1) الرخص لا تناط بالمعاصى (keringanan itu tidak dihubungkan dengan kemaksiatan)

Seperti qas}ar dan jamak s}alat dalam safar kemaksiatan.

(2) ما حرم استعماله حرم إتخاذه

(apa yang dih}aramkan menggunakannya, dih}aramkan pula memperolehnya)

Seperti minum dan membeli minuman keras yang memabukkan.

(3) ما حرم أخذه حرم إعطاءه

(apa yang diharamkan mengambilnya, diharamkan pula memberikannya), seperti mencuri dalam keadaan biasa (tidak dalam d}arurat), kemudian hartanya dikonsumsi (seperti dimakan) oleh keluarganya.

[27]Keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan adanya keraguan. Kaidah ini berlandaskan pada:

سنن الترمذي – (ج 9 / ص 58)

2442 – حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, berpindahlah kepada yang tidak meragukanmu. (HR al-Nasa’i dan al-Turmudhi dari H}asan bin ‘Ali)

[28]هو ماكان ثابتا بالنظر أو الدليل  atau ilmu tentang sesuatu yang membawa kepada kepastian dan kemantapan hati tentang hakekat sesuatu itu dalam arti tidak ada keraguan lagi. Lihat Ah}mad al-Nadwi, al-Qawa>’id al-Fiqhiyah, cet. V (Beirut: Da>r al-Qalam, 1998, 358; atau Asymuni A. Rah}man, Qaidah-Qaidah Fiqh, cet. 1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 141.

[29]هو ماكان مترددا بين الثبوط وعدمه مع تساوى طرفى الصواب والخطاء دون ترجيح أحدهما على الأخر

[30] Posisi yakin adalah 100 %,posisi shak (ragu-ragu) adalah 50 %; posisi z}ann (dugaan) adalah antara yakin dan shak (di atasnya 50 % dan di bawahnya 100 %); sedangkan posisi wahn ( salah duga) adalah di bawahnya syak (ragu-ragu) yaitu di bawah 50 %.

[31] Contoh kasus: orang yang yakin telah berwud}u dan suci dari h}adath, kemudian dia ragu, apakah wud}unya batal ataukah tidak? Maka yang menjadi patokan adalah dia dalam keadaan suci dan mempunyai wud}u. Hanya saja untuk ikht}iya>t}, yang lebih utama adalah dia memperbarui wud}unya (tajdi>d al-wud}u>’).

[32] Kesulitan mendatangkan kemudahan. Landasan dari kaidah ini adalah:

… ߉ƒÌãƒª!$#ãNà6Î/tó¡ãŠø9$#Ÿwur߉ƒÌãƒãNà6Î/uŽô£ãèø9$# ….ÇÊÑÎÈ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…

al-Qur’a>n, 2(al-Baqarah): 185.

߉ƒÌãƒª!$#br&y#Ïeÿsƒä†öNä3Ytã4t,Î=äzurß`»|¡RM}$#$Zÿ‹Ïè|ÊÇËÑÈ

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. al-Qur’a>n, 4(al-Nisa>’): 28.

[33] Muh}ammad S}iddi>q bin AH}mad al-Burnu, al-Waji>z fi> Id}a>h} al-Qawa>’id al-Fiqhiyah, cet. 1 (Beirut: Mu’assasah l-Risa>lah, 1983), 129

[34] Seperti kekhawatiran akan kehilangan nyawa/ rusaknya anggota badan. Hilangnya jiwa/ anggota badan menyebabkan kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna. Mashaqqah semacam ini membawa keringanan.

[35] Mashaqqah semacam ini harus dipertimbangkan, apabila lebih dekat kepada mashaqqah yang sangat berat, maka ada kemudahan di situ. Apabila lebih dekat kepada mashaqqah yang ringan, maka tidak ada kemudahan di situ. Inilah mashaqqah yang bersifat individual.

[36] Mashaqqah semacam ini dapat ditanggulangi dengan mudah yaitu dengan cara s}abar dalam melaksanakan ibadah. Alasannya, kemas}lah}atan dunia dan akherat yang tercermin dalam ibadah tadi lebih utama daripada mashaqqah yang ringan ini. Lihat Muh}ammad al-Ru>ki, Qawa>’id al-Fiqh al-Isla>mi>, cet I (Beirut: Da>r al-Qala>m, 1998), 2001

[37] Yaitu keringanan dalam bentuk penghapusan seperti tidak wajib s}alat bagi wanita yang sedang menstruasi, nifa>s. Tidak wajib haji bagi yang tidak mampu.

[38] Keringanan berupa pengurangan, seperti s}alat qas}ar dua raka’at yang asalnya empat raka’at.

[39] Keringanan berupa penggantian, seperti wud}u>’/ mandi wajib diganti dengan tayammum, atau berdiri waktu s}alat wajib diganti dengan duduk karena sakit.

[40] Keringanan dengan cara didahulukan, seperti jama’ taqdi>m di ‘Arafah, mendahulukan mengeluarkan zakat sebelum h}aul (batas waktu satu tahun), jama>’ taqdi>m bagi yang sedang bepergian.

[41] Keringanan dengan cara diakhirkan, seperti s}alat jama>’ ta’khir di Muzdalifah, qad}a>’ s}aum ramad}a>n bagi yang sakit, jama’ ta’khi>r bagi orang yang sedang dalam perjalanan.

[42] Keringanan karena rukhs}ah, seperti makan dan minum yang dih}aramkan dalam keadaan terpaksa, sebab jika tidak akan membawa kepada kematian.

[43] Keringanan dalam bentuk berubahnya cara yang dilakukan. Seperti s}alat pada waktu khauf (kekhawatiran), misalnya pada waktu peperangan.

[44] Boleh menqas}ar s}alat

[45] Boleh s}alat sambil duduk.

[46] Boleh makan/ minum dari barang-barang yan haram.

[47] Boleh makan saat lupa puasa. Hal ini berlandaskan pada sabda Nabi s.a.w, Diangkat dari ummatku (dosa) karena salah, lupa dan karena terpaksa.

سنن ابن ماجه – (ج 6 / ص 217)

- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

[48] Seperti berbicara saat s}alat.

[49] Seperti anak-anak (sampai dewasa) dan wanita (saat menstruasi) tidak dibebani dengan kewajiban s}alat. Hal ini berlandaskan pada sabda Nabi s.a.w,

سنن أبي داود – (ج 11 / ص 478)

- حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ حَمَّادٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُرَ

[50] Seperti s}alat dengan najis (darah kudis, kotoran debu) yang sukar dihindari.

[51] Al-Suyu>t}i, Jala<l al-Di>n ‘Abd al-Rah>man, al-Ashba>h wa al-Nadz}a>ir fi> Qawa>’id wa Furu>’ Fiqh al-Sha>fi’i>, cet I (Beirut: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah, 1979), 91.

[52] Seperti orang yang terpaksa memakan makanan yang diharamkan karena takut mati kelaparan. (h}ifz} al-Nafs lebih di dahulukan daripada h}ifz} ma>l).

[53] Seperti s}alat qasar diperjalanan.

[54] Seperti jual beli dengan sistem salam (pesan). Para Shafi’iyah berpendapat bahwa jika kesulitan itu adalah termasuk al-Mashaqqah al- Khafi>fah (kesulitan yang ringan), maka tidak ada kemudahan di situ. Hal ini merupakan sebagai sikap berhati-hati dalam beribadah.

[55] Kemud}aratan harus dihilangkan. Pengertian d}ara>r adalah sesuatu yang membahayakan.

[56] ‘Izz al-Di>n bin ‘Abd al-Sala>m, Qawa>’id al-Ah}}ka>m fi> Mas}a>lih} al-Ana>m, juz.1 (t.tp.: Da>r al-Jail, 1980), 10

[57] Perbedaan kaidah الضرر يزال dengan kaidah المشقة تجلب التيسر adalah pertama, kaidah الضرر يزال bersifat filosofis, diturunkan kepada materi-materi fiqh yang bersifat teknis, berkaitan erat dengan maqa>s}id shari>’ah (memelihara dan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta) dari sisi sadd al-dhari’ah (menutup jalan kepada kemud}aratan) dan menghilangkan setidaknya meringankan hal-hal yang memberatkan. Kedua, kaidah المشقة تجلب التيسر berkaitan dengan perbuatan mukallaf dan bertujuan untuk meringankan hal-hal yang memberatkan dan menunjukkan bahwa shari’at Isla>m bersifat tidak menyulitkan dalam pelaksanaannya. Dari sisi meringankan inilah kedua kaidah ini saling bertemu. Lihat Al-Suyu>t}i, Jala<l al-Di>n ‘Abd al-Rah>man, al-Ashba>h wa al-Nadz}a>ir fi> Qawa>’id wa Furu>’ Fiqh al-Sha>fi’i>, cet I (Beirut: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah, 1979), 84-92 dan Zayn al-’Abidi>n bin Ibra>hi>m bin Nuzaim al-H}anafi>, al-Ashba>h wa al-Naz}a>’ir, cet. 1 (Damaskus Da>r al-Fikr, 1983), 84-94

[58] Jala>l al-Di>n ‘Abd. Al-Rah}ma>n al-Suyu>t}i, al-Ashba>h wa al-Naz}a>’ir fi> Qawa>’id wa Furu>’ Fiqh al-Sha>fi’i>, cet.I (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah, 1979).

[59] Kebutuhan yang wajib ada, bersifat mutlak dan tidak bisa diabaikan. Seperti orang yang sudah sangat lapar, dia tidak boleh tidak harus makan. Sebab jika tidak, dia akan mati

[60] Kebutuhan yang tidak mencapai tingkatan d}aru>rat, bersifat menghilangkan kesulitan dalam rangka pemeliharaan kulliyah khamsah. Seperti orang yang lapar (tapi masih bisa  ditahan) dan tidak mengakibatkan kematian, hanya tubuh yang payah dan lemah saja. Adapun kaidah

الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كان أو خاصة , h}ajat menduduki tempat d}arurat, baik secara umum atau khusus/ pribadi. Karena kebolehan melanggar dalam hal yang h}aram inilah kedudukan h}ajah ditempatkan pada posisi d}arurat.

[61] Kebutuhan yang bersifat penyempurna saja, seperti makanan yang bergizi yang akan memberikan kesehatan dan kekuatan, sehingga dapat hidup secara wajar.

[62] Kebutuhan yang bersifat untuk memperindah dan merupakan kemewahan hidup. Seperti makanan yang lezat-lezat, perhiasan.

[63] Kebutuhan yang bersifat berlebih-lebihan. Seperti banyak makan yang shubhat atau h}ara>m.

[64]  Ç`yJsù §äÜôÊ$# uŽöxî 8ø$t/ Ÿwur 7Š$tã Ixsù zNøOÎ) Ïmø‹n=tã 4 ¨bÎ) ©!$# ֑qàÿxî íOŠÏm§‘ ÇÊÐÌÈ

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Qur’a>n, 2 (al-Baqarah): 173

[65] Sejalan dengan kaidah الضررلايزال بمثله , kemud}aratan tidak bisa dihilangkan dengan kemud}aratan yang sebanding. Seperti mengambil makanan orang lain yang sama-sama dalam keadaan kelaparan.

[66] Sejalan dengan kaidah  إذا تعارض مفسد تان روعى أعظمهما ضررا بارتكاب أخفهما

Jika dua mafsadah bertentangan, maka diperhatikan mana yang lebih besar mad}arahnya dengan dikerjakan yang lebih ringan mad}arahnya. Seperti lari dari medan perang (sebab kalah dalam peperangan lebih besar mad}aratnya daripada menyelamatkan diri).

[67] Sejalan dengan kaidah الضرورات تقدر بقدرها  keadaan d}aru>rat, ukurannya ditentukan menurut kadar kedaruratannya. Dalam al-Qur’a>n disebutkan:

Ç`yJsù §äÜôÊ$# uŽöxî 8ø$t/ Ÿwur 7Š$tã Ixsù zNøOÎ) Ïmø‹n=tã 4 ¨bÎ) ©!$# ֑qàÿxî íOŠÏm§‘ ÇÊÐÌÈ

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Qur’a>n, 2 (al-Baqarah): 173

[68] Adat kebiasaan dapat dijadikan (pertimbangan) hukum.

[69]العادة مااستمر الناس عليه على حكم المعقول وعادوا إليه مرة بعد أخرى lihat di Al Jurja>ni>, Kita>b al-Ta’rifat, (t.tp.: Da>r al-Kutub al-’Ilmiyah,1983)

[70]العرف هو ماتعارفه الناس وساروا عليه من قول أو فعل أو ترك ويسمى العادة . وفى لسان الشرعيين لافرق بين العرف والعادة.  Lihat di ‘Abd Wahab al-Khalaf, Mas}a>dir al-Tashri’ fi> Ma> La> Nas}s} Fi>h, cet. III (Kwait: Da>r al-Qalam, 1972)

[71] Seperti berjudi, menyabung ayam.

[72] Memboroskan harta, hura-hura yang berlebihan dalam suatu perayaan.

[73] Jika berlaku pada beberapa orang saja tidak dianggap adat. Lihat ‘Abd Wahab al-Khalaf, Mas}a>dir al-Tashri’ fi> Ma> La> Nas}s} Fi>h, cet. III (Kwait: Da>r al-Qalam, 1972)

[74]Sa’i>d Ramad}a>n al-Bu>t}i>, D}awa>bit} al-Mas}lah}ah fi> al-Shari>’ah al-Isla>mi>yah (Beirut : Mu’assasah al-Risa>lah, 1992 ), 245-251

[75] Ibid.,245

[76] Ibid., 246

[77] Ibid., 246

[78] Ibid., 247

[79] Bukan merupakan salah satu dari, 1. al-’a>dah (kebiasaan) adalah hukum shar’i itu sendiri, 2. al-’a>dah (kebiasaan) bukan hukum shar’i, tapi berhubungan kuat dengan hukum shar’i.

[80] Ibid., 249

[81] Ibid., 250

[82]Ibid., 250. Seperti ketika shari’ah mengharamkan riba dalam makanan, maka keharaman tersebut hanya terbatas pada makanan pokok dalam suatu daerah, bukan semua jenis makanan atau kebolehan akad salam (titip), dan akad istis}na’ (pesan, minta dibuatkan sesuatu). Dalam hal jual  biasa (barang yang digunakan jual beli harus telah berwujud). Namun karena adat dan untuk kelancaran transaksi, maka akad salam (titip), dan akad istis}na’ (pesan, minta dibuatkan sesuatu) diperbolehkan.

[83]  Ibid., 251